Selasa, 10 Oktober 2017

Fotografi (Sukses dengan Hobby)

Sukses dengan Hobby




Hobby bermain dengan Ikan
        Scleropages formosus atau yang lebih di kenal dengan sebutan Ikan Arwana ini sudah menjadi ikan hias favorit untuk kalangan atas. Dari segi sisik ikan dan juga keanggunan dari ikan ini menjadi titik perhatian orang banyak untuk menjadikannya sebagai seekor ikan hias. Dan ikan arwana ini yang paling digemari adalah ikan arwana super red yang hanya berhabitat di pulau Kalimantan, Indonesia. 
Disini saya akan bercerita sedikit tentang seseorang yang hobbynya adalah bermain dengan ikan dan ketertarikannya akan ikan Scleropages ini,Seseorang dengan nama Agus Setiawan semenjak 1999 mulai untuk menyukai ikan ini dan setelah itu muncullah oemikiran untuk memelihara lebih banyak bahkan untuk menangkarkan ikan ini. 

        Cerita singkatnya , setelah 5 tahun kemudian berhasil untuk menangkarkan ikan ini dan membuka sebuah perusahaan swasta bernama PT. Arwana Lestari di kota kecil yang bernama Putussibau dan setelah di selidiki air tawar yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat tersebut sangatlah cocok untuk jenis ikan arowana super red ini.Bertahun - tahun ketekunan dari bapak Agus ini tidaklah pupus melaikan menghasilkan buah lain yang lebih besar dimana dia berhasil untuk menggali beberapa membuat beberapa kolam ikan untuk menangkarkannya. Setelah itu ikan arwana ini terdengar ke kota - kota besar dan datanglah orang - orang kalangan atas yang juga hobby sama dengan bapak ini, setelah itu berbagai kerjasama antar perusahaan pun terjalin. Dan akhirnya dia sukses dan menjadi Direktur bahkan dia selalu di undang ke kompetisi ikan hias di kota - kota besar untuk menjadi salah satu jurinya. 

Beberapa orang berfikir bahwa apa yang di baca sebenarnya adalah sebuah happy ending untuk sebuah cerita dan mustahil untuk kita.
        Apakah setelah membaca cerita singkat di atas anda merasa termotivasi? pasti jawabannya adalah iya, tetapi berapa banyak dari anda yang merasa bahwa itu "ah cuma cerita tentang hidup seseorang mana mungkin terjadi pada diriku" . Yang saya harus katakan adalah pemikiran seperti itu sangatlah kuno, dengan kemajuan teknologi di jaman modern ini anda memiliki kesempatan untuk lebih sukses daripada orang - orang yang hidup di jaman 70 -80an. Seharusnya kita dapat lebih berkreatif dan berinovasi lebih diera modern sekarang. Percayalah akan diri sendiri, kamu juga bisa untuk menjadi seperti mereka bahkan lebih .
 
"They can because they think they can - Virgil"

Tak sedikit juga orang yang menginginkan kata "Sukses" dengan semua yang serba instan.
        Kita sendiri tau bahwa tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan. Semua yang anda lakukan , lakukanlah dengan tekun dan cintailah apa yang anda kerjakan, niscaya semua yang anda lakukan akan membuahkan hasil yang selama ini anda tunggu - tunggu. Kunci dari kata sukses sendiri adalah setia dan tekun akan satu hal. Tidak ada salahnya untuk berkomitmen akan suatu usaha daripada membuka banyak peluang untuk sukses namun yang di dapatkan adalah nihil, karena diri kita sendiri tidak sanggup dan bahkan juga bingung untuk menentukan mana yang menjadi prioritas anda. Ingatlah semuanya membutuhkan yang namanya Waktu.

“There are no shortcuts to any place that worth going – Hellen Keller”

Saat semuanya sudah di tentukan dan di rencanakan , terkadang kita juga bingung harus darimana langkah awal yang harus kita ambil.
        Saat kita merasa termotivasi dan ingin memulai satu langkah untuk semuanya tetapi barangkali kita bingung dari mana hrus memulai semuanya. Yang saya bisa katakan adalah "Keluar dari Zona Nyamanmu" . Tidak ada pekerjaan yang enak untuk di lakukan pertama kali, mungkin sebagian besar kita akan memakan pahitnya hidup yang sebenarnya . Tetapi dengan begitu , kita sudah memulai langkah pertama kita untuk keluar dari keseharian kita, itulah adalah ambisi kita selajutnya tindakan kita adalah langkah yang kedua.

"Berani bertindak belum tentu menjamin keberhasilan, namun tidak bertindak sudah pasti menjamin kegagalan - Merry Riana"

Dibalik semua itu , janganlah kalian terfokus dengan apa yang akan anda lakukan tetapi iringilah semua langkah dengan doa.
         Terkadang kita lupa bahwa semua yang mendatangkan kabikan adalah dari Yang Maha Kuasa. Oleh sebab itu janganlah terlalu fokus dengan apa yang akan anda lakukan sehingga melupakan dasar dari kesuksesan itu sendiri. 

"Carilah dulu kerajaan Allah dan Kebenarannya maka semua itu akan di tambahkanNya kepadamu - Matius 6 : 33"




 
 Our Story ini Ditulis oleh Merryana Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Tanjungpura 2016

Sabtu, 07 Oktober 2017

TRADISI KOMUNIKASI (Semiotika)


Tradisi semiotika

Pengertian Semiotika
            Tradisi Semiotika atau yang biasa di sebut Semiotic berasal dari bahasa Yunani  yaitu “semeion” yang artinya adalah tanda atau simbol. Tradisi semiotika ini terdiri atas teori- teori tentang bagaimana tanda atau simbol mempresentasikan benda, ide, situasi, kondisi, bahkan perasaan di luar tanda atau simbol itu sendiri. Jadi dapat disimpulkan bahwa Tradisi Semiotika adalah ilmu yang melibatkan tanda atau symbol tersebut berkerja. 
            Tradisi Semiotik ini bertujuan untuk menafsirkan makna yang tersirat dari sebuah tanda sehingga dapat diketahuo oleh komunikan. Tanda dan symbol bersifat komunikatif dikarenakan dari tanda dan symbol tersebut komunikator dapat menyampaikan sebuat infromasi yang mampu menggantikan makna yang lain. 
            Tradisi Semiotika ini cocok untuk memecahkan masalah, respon-respon subyektif, dan kesalahpahaman. Tradisi ini tentunya banyak menjadi perdebatan bahasa yang meliputi tanda,kode, makna, referensi, simbol, dan pemahaman. 

Varian Dalam Tradisi Semoitika
          Tradisi Semiotika terbagi atas tiga variasi, yaitu:
1.    Semantic atau bahasa, merujuk pada bagaimana hubungan antara tanda dengan objeknya atau tentang keberadaan dari tanda itu sendiri.
2.    Sintaktik atau hubungan di antara tanda. Tanda ataupun symbol yang ada tidak pernah dan bisa berdiri sendiri mewakili dirinya, tanda - tanda tersebut selalu menjadi bagian dari sistem tanda yg lebih kompleks. Sintaktik memungkinkan manusia menggunakan  kombinasi tanda dengan tanda yang lain dengan tujuan mengungkapkan arti atau makna.
3.    Sintagmatic atau paradigmatic ini melihat bagaimana sebuah tanda bisa  memiliki makna yang berbeda oleh masing-masing individu sesuai dengan budayanya.


Keunggulan dari Tradisi semiotika ini pastinya terletak pada beberapa ide mengenai bahasa dan juga identifikasi subyektifitas dimana menjadi penghalang untuk memaknai makna dari tanda tersebut.

Asumsi Dasar Tradisi Semiotika
         Konsep yang mendasari tradisi Semiotika ini adalah bagaimana memaknai sebuah tanda yang dijadikan sebagai sebuah stimulus yang  menunjukkan kondisi atau makna yang lain. Contohnya saja ketika melihat asap yang menggumpal maka asap tersebut di asumsikan akan adanya api.
         Tiap-tiap simbol yang muncul diantara masyarakat satu dengan masyarakat yang lain akan memiliki makna yang berbeda ketika digunakan untuk berkomunikasi. Tradisi semiotik adalah pergabungan dari beberapa teori yang sangat luas dan pastinya berkaitan dengan wacana, bahsa bahkan tindakan  nonverbal  pada tanda dan simbol.

          Tradisi Semiotik  ini merupakan salah satu ilmu yang memiliki keunikan tersendiri. Budaya menjadi konsep yang unik dalam kajian tradisi Semiotika ini, karena budaya sendiri menentukan makna yang terkandung pada tiap simbol. Oleh karena itu di dalam semiotik  Tanda dan Simbol memiliki sifat yang arbitrer. Pemikiran dari Tradisi semiotik ini melibatkan ide dasar  dari pakar komunikasi Charles Sanders Pierce yaitu triangle of meaning yang memunculkan arti dari hubungan dari tiga hal: benda atau simbol yang dituju, manusia sebagai penafsir, dan tanda bahkan simbol.
          Pola kajian tradisi semiotik ini memiliki beberapa aspek yang penting dalam hal persuasif terhadap orang banyak, tidak hanya memaknai setiap bentuk dan tanda yang muncul. Pada hal inilah kajian Tradisi semiotik dapat dibilang memiliki keunikan tersendiri, yaitu bagaimana  tanda memiliki makna yang berbeda dan juga tanda tersebut dapat bersifat persuasive.

Analisi Tradisi Semiotik menurut Charles Sanders Pierce
          Menurut salah satu pakar Komunikasi  Pierce, Tradisi semiotik ini terdiri dari tiga buah aspek yang penting dan lebih sering dikenal dengan sebutan triangle of meaning ( Segitiga Makna).Ketiga aspek penting tersebut adalah:

·       Tanda
         Dalam kajian tradisi semiotik, tanda menjadi konsep utama sebagai bahan analisis, yang di mana tanda tersebut memiliki makna yang bertujuan untuk  interpretasi pesan. Dalam arti sederhana, tanda cenderung memiliki bentuk visual ataupun fisik yang kemudian ditangkap dan di artikan oleh manusia.

·       Objek atau Acuan Tanda
         Objek atau yang dikenal dengan Acuan tanda merupakan salah satu konteks sosial yang dimana implementasinya selalu dijadikan aspek dari pemaknaan tanda tersebut.

·       Pengguna Tanda
         Pengguna tanda adalah pemikiran dari orang-orang yang menggunakan simbol atau tanda itu sendiri dan menurunkannya menjadi suatu makna tertentu, bisa juga dengan suatu makna yang di tandai dengan menggunakan simbol.




Sumber:

Buku :
Littlejohn, Stephen W,  (2009) .  Teori Komunikasi Theories of Human Communication edisi 9. Jakarta. Salemba Humanika.

Online :
Ridho. (2016). Semiotic Tradition. Diakses pada 6 Oktober 2017 dari http://www.ridhoa3.com/2016/01/semiotic-tradition-tradisi-semiotika.html
Restu. (2015).Tradisi Semiotika. Di akses pada 6 Oktober 2017 dari http://restu160895.blogspot.co.id/2015/05/tradisi-semiotika.html
Funtaha, arif. (2015).Tradisi Semiotika. Diakses pada 6 Oktober 2017 dari https://arifuntahablog.wordpress.com/tradisi-semiotika/



Senin, 02 Oktober 2017

Fotografi (Cantik?)

C a n t i k ?

Sumber Foto : Tabitha Christine Setiawan Halim 

Kata orang cantik itu relative?

Cantik? Sebenarnya apa yang di maksud dengan kata cantik sendiri? Banyak dari kita yang kebingungan menjelaskan kata “cantik” ,  hingga muncul istilah yang sering kita dengar yaitu “cantik itu sudah relatif dan jelek mutlak”. Apakah penilaian cantik itu hanya berdasarkan wajah dan fisik dari seseorang sendiri?
Saat kamu berkaca di depan cermin, apakah pemikiran pertamamu setelah kamu berkaca? Apakah kamu melihat banyak sekali kekurangan dalam diri kamu? Tidak sedikit perempuan bahkan mungkin kamu juga salah satunya yang berfikir bahwa kamu itu jauh dari kata “Cantik”. Tak jarang kita mendengar bahwa semua wanita itu cantik, tetapi tak jarang juga kita merasakan bahwa kita tidaklah begitu sempurna.

Tidak semua kaum wanita meprioritaskan kecantikan dtetapi pada dasarnya semua kaum wanita pasti mempunyai keinginan untuk terlihat cantik.
Di luar sana,banyak kaum wanita yang sadar bahwa fisik bukanlah segalanya untuk terlihat cantik. Tetapi pada dasarnya tidak ada wanita ingin terlihat jelek atau berbeda, keinginan semua wanita pasti untuk terlihat cantik, anggun dan menawan meskipun dalam style yang sederhana.
Walaupun dengan mengikuti trend yang ada, walaupun dia tidak menyukainya tetapi dia harus seperti itu, karena setiap perempuan berfikir mengikuti trend adalah salah satu cara untuk berbaur dan mendapatkan cap Cantik dengan cepat. Memang  terlihat cantik dan juga menarik adalah salah satu naluriah perempuan yang paling utama. Tapi dengan menjadi diri sendiri , adalah sebuah kecantikan unik dari diri orang tersebut.

“ Beauty begins the moment you decide to be yourself“ – Coco Chanel

Tetapi dengan menjadi diri sendiri terkadang selalu ada pemikiran bahwa kamu tidak sempurna bahkan tidak menarik sama sekali.
Banyak sekali wanita yang melalukan perbaikan pada dirinya  dengan Operasi plastik. Dia berfikir bahwa ada yang salah pada dirinya sehingga dia harus memperbaikinya apapun resikonya untuk mendapatkan apa yang orang sebut dengan cantik itu sendiri. Tetapi setalah kaum wanita melakukan oplas tersebut, apakah mereka akan puas? Tidak. meskipun begitu pasti selalu ada perasaan dimana mereka merasa bahwa mereka tetaplah tidak menarik. Perasaan ini sangat kuat muncul ketika kita melihat perempuan yang lebih menarik atau cantik di mana hal ini membuat kita berfikir dan merasa bahwa kita tak pernah merasa lebih baik. Tetapi berbeda dengan kaum lelaki yang selalu merasa puas dengan penampilannya yang apa adanya.

“ Don’t Compare yourself to Others , that’s the start you lose confidence to yourself” – Will Smith

Adanya ketidakpuasan , saat ditanya justru kaum wanita akan kebingungan apa yang sebenarnya  mendefiniskan dirinya.
Tidak sedikit media yang menyebarkan iklan bahkan eksperimen sosial tentang bagaimana seorang perempuan mendefinisikan dirinya . Bahkan tak sedikit pula wanita yang merasa bahwa dirinya sama sekali tidaklah sempurna dan bahkan bingung untuk berkata apa setelah di tanya tentang dirinya. Memang hal paling tersulit adalah menilai diri sendiri daripada menilai orang lain bukan? Tetapi untuk kaum wanita, jujurlah pada diri sendiri tentang apa yang dirimu punya. Pada kenyataannya tidak semua yang kamu fikirkan itu sama dengan apa yang orang lain fikirkan.
Salah satu bukti nyata bagaimana perempuan melihat dirinya sama sekali tidak istimewa adalah video buatan produk Dove yang keluar tahun 2013 lalu. Dalam video yang kurang lebih dari enam menit memperlihatkan bahwa ada seorang pelukis yang melukis seseorang dengan apa yang dia definisikan dari dirinya tanpa melihat seperti apa  dia sesungguhnya. Setelah orang tersebut melukiskan dirinya sesuai dengan apa yang dia definisikan tentang dirinya maka pelukis tersebut kembali melukis tentang orang tersebut menurut pandangan orang lain.

Video :

Pembelajaran yang di dapat dari video tersebut adalah mari lihat diri kita bukan dari kekurangannya tetapi dari apa yang sebenarnya terlihat. Setiap wanita memiliki cahaya tersendiri yang memancar dengan begitu unik.

“ Beauty is not in the face, Beauty is a light in a heart“ – Khalil Gibran




Our Story ini ditulis oleh Merryana Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untan Angkatan 2016

Sabtu, 30 September 2017

TRADISI KOMUNIKASI (Retorika)

TEORI RETORIKA

Konsep Utama Teori retorika adalah kepada pemikiran tentang retorika, yang diungkapkan Aristoteles adalah sebagai alat persuasi. Maksudnya adalah seorang pembicara pasti tertarik untuk membujuk atau melakukan tindak persuasif kepada khalayknya, oleh sebab itu pembicara harus mempertimbangkan tiga bukti dari konsep ini, yaitu:  emosi (pathos), logika (logos) dan etika/kredibilitas (ethos). Didalam Teori ini khalayak dianggap sebagai kunci dari persuasi itu sendiri dan bahkan silogisme retoris memandang khalayak harus menemukan sendiri potongan yang hilang dari sebuah pidato yang digunakan untuk persuasi. Oleh sebab itu, diambil kesimpulan bahwa teori retorika ini adalah teori yang dimana lebih memberikan petunjuk untuk sebuah pidato ataupun presentasi yang bersifat persuasive dan efektif.
Setiap orang memanfaatkan retorika ini menurut kemampuannya sendiri. Ada yang menggunakannya secara spontan , yang sudah disusun, ada yang masih mengikuti cara pemanfaatan yang sebenarnya sudah menjadi sebuah tradisi dan bahkan ada juga yang menggunakannya dengan secara terencana.
Teori Retorika ini memainkan sebuah peranan yang penting dalam kegiatan bertutur dikarena Teori Retorika di satu pihak lebih memberikan gambaran dan pemahaman yang lebih baik khususnya tentang manusia didalam hubungannya dengan bertuturnya, sedangkan di posisi lain teori retorika ini membimbing orang untuk membuat tuturnya lebih memikat, lebih gamblang dan bahkan lebih meyakinkan.

 Asumsi-asumsi Teori Retorika
Ada beberapa asumsi yang terdapat dalam teori retorika, yaitu :
a.       Public speaker atau pembicara efektif perlu mempertimbangkan audiens mereka. Asumsi ini lebih mengarah kepada konsep utaman untuk menganalisis audiens (audience analysis).

b.      Public speaker atau pembicara efektif menggunakan beberapa bukti didalam presentasinya. Bukti yang dimaksudkan ini lebih merujuk kepada cara mereka mempersuasi yaitu :
1.      Ethos merupakan tampilan dari sebuah karakter dan kredibilitas sang pembicara yang bisa mempersuasi audiens sehingga membuat mereka peduli bahkan percaya kepada pembicara. Etos masih dianggap metode yang paling efektif untuk membentuk karakter sang pembicara sebagai persuader yang membangkitkan sikap kritis audiens supaya mereka percaya dengan berbagai argument yang dia ucapkan. 
2.      Pathos merupakan sisi keterampilan dari pembicara untuk mengendalikan emosi ketika sedang berbicara di public. 
3.      Logos merupakan pengetahuan tentang hal yang akan dikomunikasikan oleh pembicara secara luas dan mendalam , struktur dari pesan yang akan disampaikan harus rasional, logis , berbasis kepada argumentasi, dan juga pesan ini disampaikan harus secara induktif maupun deduktif. Inductive reasoning adalah penyampaian sebuah pesan yang berdasarkan hipotesis dan historis, yang nantinya akan membuat para audiens untuk dapat menarik sebuah kesimpulan umum.Deductive reasoning adalah sifat yang mengharuskan seorang pembicara merumuskan pesan didalam bentuk proposisi yang umum, sehingga para audiens dapat menarik kesimpulan yang khusus.

Jenis-jenis Retorika
1. Retorika forensic (forensic rhetoric),   adalah sesuatu yang berkaitan dengan keadaan yang diamana seorang pembicara lebih mendorong timbulnya rasa tidak bersalah maupun bersalah dari audiens. Pidato ini juga disebut pidato yudisial yang biasanya dapat ditemui didalam kerangka hukum. Retorika forensic lebih berorientasi kepada masa di waktu yang lampau.
2. Retorika epideiktik (epideictic rhetoric), meurpakan jenis retorika yang berhubungan dengan wacana tentang sebuah pujian ataupun sebuah tuduhan. Pidato epideiktik ini lebih sering dikenal  juga dengan pidato seremonial. Pidato jenis ini hanya disampaikan kepada publik apabila adanya tujuan untuk memuji, menyalahkan , menghormati dan juga mempermalukan. Pidato jenis ini akan lebih berfokus kepada isu sosial yang ada dimasa sekarang.
3. Retorika deliberative (deliberative rhetoric), adalah jenis retorika penentuan yang  menentukan tindakan apa saja yang boleh dilakukan maupun yang tidak boleh dilakukan oleh audiens. Pidato ini sering dikenal dengan pidato politis. Pidato jenis deliberative ini lebih berorientasi kepada waktu yang mendatang.


 Hukum atau Prinsip Teori Retorika
Beberapa hal penting yang harus perhatian dari tradisi ini yaitu terdapat lima hukum teori retorika sendiri, yaitu:
1.      Penciptaan (Invention)
Pengertian penciptaan dapat definisikan sebagai sebuah konstruksi atau sebuah penyusunan dari suatu argument yang berhubungan dengan tujuan dari pidatoitu senditri . Dalam hal ini integrasi tentang cara berfikir dengan sebuah argumen dalam sebuah pidato sangat di perlukan. Maka, dengan menggunakan fikiran logika dan beberapa bukti didalam pidato dapat membuat pidato tersebut menjadi lebih kuat dan bersifat persuasive. 

2.      Pengaturan (Arrangement)
Pengaturan adalah proses mengorganisasi symbol yaitu mengatur informasi yang terkait dengan hubungan diantara manusia, symbol, dan konteks yang terlibat. Bisa juga diartikan kemampuan pembicara untuk mengorganisasikan pidatonya. 

3.      Gaya (Style)
Gaya merupakan kanon retorika yang mencakup penggunaan bahasa untuk menyampaikan ide-ide didalam sebuah pidato. Dalam penggunaan bahasa harus menghindari glos (kata-kata yang sudah kuno dalam pidato), akan tetapi lebih dianjurkan menggunakan metafora (majas yang membantu untuk membuat hal yang tidak jelas menjadi lebih mudah dipahami). Penggunaan gaya memastikan bahwa suatu pidato dapat diingat dan bahwa ide-ide dari pembicara diperjelas.

4.      Penyampaian (Delivery)
Penyampaian merupakan sebuah perwujudan dari sebuah symbol kedalam bentuk fisik yang mencakup berbagai variasi mulai dari nonverbal,tulisan,  bicara hingga pesan yang diperantarai.Penyampaian biasanya mencakup beberapa perilaku seperti kontak mata, tanda vocal, ejaan, kejelasan pengucapan, dialek, gerak tubuh, dan penampilan fisik. Penyampaian yang efektif mendukung kata-kata pembicara dan membantu mengurangi ketegangan pembicara.

5.      Ingatan (Memory)
Ingatan adalah apa yang disampaikan, baik lisan maupun tertulis termasuk yang terekam dalam ingatan.Dengan ingatan, seseorang pembicara dapat mengetahui apa saja yang akan dikatakan dan kapan mengatakannya, meredakan ketegangan pembicara dan memungkinkan pembicara untuk merespons hal-hal yang tidak terduga.

Melalui lima hukum teori retorika ini, sebelum berbicara seorang pembicara(rhetor) harus menemukan beberapa ide maupun gagasan, tentang bagaimana mengorganisasikan sebuah gagasan, tentang bagaimana membingkai sebuah gagasan ke dalam rangkaian bahasa, tentang menyampaikan sebuah gagasan dan pada akhirnya tentang bagaimana hal disampaikan itu oleh rhetor dapat menjadi sebuah ingatan untuk orang-orang  yang telah menerimanya.


Sumber:
Online
Setiano, Yearry Panji. (2008). Teori Retorika Aristoteles. Diakses pada Jumat 29 September 2017 dari http://yearrypanji.wordperr.com/2008/04/26/teori-retorika-aristoteles.html
Harmayani. (2012). Retorika dalam Teori Komunikasi. Diakses pada Jumat 29 September 2017 dari http://gunnaharmyani.blogspot.com/2012/06/retorika-dalam-teori-komunikasi.html
Sutarmi, Siti.(2014). Teori Retorika.Diakses pada Jumat 29 September 2017 dari
http://suratmisitisuratmi.blogspot.co.id/2014/03/teori-retorika.html
Ardianto, Krisna. (2010).Teori Komunikasi Retorika Aristoteles. Diakses pada , Jumat 29 September 2017 dari
http://mysteriouxboyz90.blogspot.co.id/2010/08/teori-komunikasi-retorika-aristoteles.html
Darmawan,Setia. (2013). Teori Retorika . Diakses pada , Jumat 29 September 2017 dari
http://setiadarmawan.blogspot.co.id/2013/07/teori-retorika.html
Buku
West, Richard. Pengantar Teori Komunikasi : Teori dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Humanika, 2008


TRADISI KOMUNIKASI (Sibernatika)

TRADISI SIBERNATIKA ( Cybernetic )

Tradisi Sibernetika merupakan tradisi yang membahas mengenai suatu sistem yang kompleks di mana berbagai elemen yang terdapat di dalamnya saling berinteraksi dan saling memengaruhi dan komunikasisebagai pengolah dari semua informasi tersebut.

   Komunikasi dalam tradisi ini dipahami sebagai sistem yang terdiri atas bagian-bagian atau variabel-variabel yang saling memengaruhi satu sama lain. Sistem juga membentuk sekaligus mengawasi karakter dari keseluruhan sistem. Dalam hal ini komunikasi sebagai proses informasi dan masalah yang banyak dihubungkan dengan keramaian, kelebihan beban, dan malfungsi. Tradisi ini berkaitan dengan proses pembuatan keputusan. Sistem ini bersifat terbuka, sehingga perkembangan dan dinamika yang terjadi dilingkungan akan diproses didalam internal sistem. Sibernetika digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.

           Tradisi ini juga nampak paling masuk akal ketika muncul isu tentang otak dan pikiran, rasionalitas, dan sistem-sistem kompleks. Teori informasi berada dalam kontek ini. Demikian pula konsep feedback menjadi penting dalam hal ini. Perkembangannya dapat pula disebut teori-teori yang dikembangkan dari teori informasi seperti yang dilakukan Charles Berger untuk komunikasi antar personal dan Guddykunt untuk komunikasi antar budaya.

        Contoh lain adalah proses pembuatan kebijakan publik oleh lembaga pemerintahan dimana tradisi cybernetic dapat menjelaskan. Terdapat proses sosialisasi untuk mendapatkan feedback dari publik sebelum suatu kebijakan ditetapkan secara permanen.
Ilmuan dari MIT, Norbert  Wiener menggunakan kata Cybernet untuk mendiskripsikan bidang intelektual yang bersifat semu. Tidak bisa dipungkiri tradisi Sibernatika atau Cybernetic yang ditemukan oleh Norbert Wiener ini dan dikombinasikan dengan Shannon – Wiever menjadi penting sebagai salah satu tradisi dalam kajian komunikasi. Beberapa tokoh penting disini adalah Wiener, Shannon-Weaver, Charles Berger, Guddykunts, Karl Deutch, dan sebagainya.

VARIAN TRADISI SIBERNATIKA
     Dalam tradisi Sibernatika (Cybernetic) terdapat beberapa varian, antara lain adalah:
a).   Basic System Theory, ini adalah format dasar. Pendekatan ini melukiskan seperti sebuah struktur yang nyata dan bisa di analisa dan diamati dari luar.
b).   General System Theory, sistem ini menggunakan prinsip untuk melihat bagaimana sesuatu pada banyak bidang yang berbeda menjadi selaras antara satu dengan yang lain.
c).   Second Order Cybernetic, dikembangkan sebagai sebuah alternative dari dua tradisi Cybernetic sebelumnya.

Contoh kasus Tradisi teori komunikasi Sibernitika
Apakah dengan penambahan uang jajan akan meningkatkan semangat belajar mahasiswa?

       Penjelasan gambar diatas adalah untuk menjawab apakah benar dengan memberikan uang jajan lebih banyak dapat membuat mahasiswa lebih rajin belajar.
          Dengan memberikan uang jajan lebih banyak mahasiswa menjadi lebih sering jalan jalan dan dengan seringnya jalan-jalan maka mahasiswa akan sering nongkrong dan dengan sering nongkrong maka mahasiswa jadi sering jajan.
Dengan memberikan uang jajan lebih mahasiswa akan sering nongkrong, sering jajan dan akan menggampangkan tugas dengan membayar orang lain.
Jadi kesimpulan dari sistem diatas adalah dengan memberikan uang jajan lebih banyak pada mahasiswa tidak membuat mahasiswa lebih rajin.

GENRE TRADISI SIBERNATIKA
           Teori Sibernatika terdiri dari dua genre. Pertama, satu kelompok teori yang umumnya berasal dari rubrik penggabungan informasi (information- integration). Kedua, satu kelompok teori yang umumnya dikenal sebagai teori konsistensi ( consistency theories ). Karena dampak mereka yang sangat besar pada bidang komunikasi selama bertahun – tahun.
a. Teori Penggabungan Informasi
                Pendekatan penggabungan informasi (information intergation) bagi pelaku komunikasi berpusat pada cara kita mengakumulasi dan mengatur informasi tentang semua orang, objek, situasi, dan gagasan yang membentuk  sikap  atau kecenderungan untuk bertindak dengan cara yang positif atau negatif terhadap beberapa objek.
                Ide dasar dibalik teori ini bergantung pada keseimbangan keyakinan, valance dan kredibilitas.
1.     Teori Nilai Ekspektasi
                Salah satu dari ahli teori penggabungan informasi yang sangat terkenal dan dihormati adalah Martin Fishbein. Karya Fishbein menyoroti sifat kompleks dari perilaku yang diketahui sebagai teori nilai ekspektasi (expectancy-value theory). Menurut Fishbein, ada dua macam keyakinan. Pertama, yakin pada suatu hal. Ketika Anda meyakini sesuatu, Anda akan berkata bahwa hal tersebut ada. Kedua, yakin tentang adalah perasaan Anda pada kemungkinan bahwa hubungan tertentu ada di antara dua hal.

            Fishbein menyajikan hubungan antara keyakinan dan sikap dengan rumus:
            A0 = ∑ Biai

           Ao = sikap terhadap objek o
            Bi= kekuatan keyakinan tentang (mungkin atau tidak mungkin bahwa diasosiasikan dengan konsep lainya
ai= aspek evaluatif terhadap B (evaluasi dari konsep x)
           N  = jumlah kepercayaan tentang  o


Sumber :
Online
Ligori, Tamar. (2014)Resume Teori SIstem Teori Sibernatika.Diakses pada , JUmat 29 Sepember 2017 dari
http://tamarligori.blogspot.co.id/2014/05/resume-teori-sistem-teori-sibernetika.html
Mirantyas. (2010) . Tujuh Tradisi dalam Teori Komunikasi. Diakses pada Jumat, 29 September 2017 dari
https://mirayashmine.wordpress.com/2011/01/10/tujuh-tradisi-dalam-teori-komunikasi/
Tidak diketahui. (2017). Pengertian dan Studi kasus teori komunikasi Sibernatika . Diakses pada , Jumat 29 September 2017 dari
http://tanyatugas.com/pengertian-dan-studi-kasus-tradisi-teori-komunikasi-sibernetika-sosiopsikologi/


Jumat, 29 September 2017

TRADISI KOMUNIKASI (Sosiokultural)

Tradisi Sosiokultural

Pada Tradisi Sosiokultural, pendekatan tradisi in terhadap teori komunikasi telah menunjukkan berbagai cara dan pengertian kita kepada makna, peran, norma dan juga peraturan secara interaktif didalam komunikasi. Tradisi sosiokultral ini berasal dari kajian antropologi yang mengatakan bahwa komunikasi dapat berlangsung didalam konteks budaya tertentu karena komunikasi dipengaruhi dan juga mempengaruhi kebudayaan yang ada di suatu masyarakat.

Gagasan yang utama dari tradisi ini adalah memfokuskan diri kepada bentuk interaksi antarindividu daripada karakteristik antarindividu. Interaksi adalah sebuah proses dan juga tempat pemaknaan, peraturan , peran serta nilai budaya setempat. Meskipun individu telah memproses informasi tersebut secara kognitif, tradisi ini tidaak tertarik kepada komunikasi antarindividu. 
Premis dari tradisi ini adalah ketika seseorang berbicara, maka mereka sesungguhnya sedang mencerna dan mengartikan kembali sebuah budaya. Sebagian besar orang beranggapan bahwa kata yang keluar pastinya mencerminkan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Pandangan kita terhadap realitas terbentuk oleh bahasa yang kita gunakan sejak lahir

Ahli bahasa dari Universitas Chicago yaitu Edwar Sapir dan Benyamin Lee Whorf adalah seorang pelopor tradisi sosiokultural. Hipotesis yang menjadi rujukannya adalah struktur bahasa pada suatu budaya yang menentukan apa yang orang pikirkan dan juga lakukan. Dapat difikirkan bagaimana seseorang dapat menyesuaikan dirinya dengan realitas yang ada tanpa menggunakan suatu bahasa karena bahasa hanya semata-mata dipergunakan untuk mengatasi suatu persoalan yang behubungan komunikasi atau refleksi. Dari hipotesis ini, dapat disimpulkan bahwa proses berpikir dan cara kita memandang dunia sudah dibentuk oleh bahasa yang kita sering gunakan.

Secara fungsional, bahasa dijadikan alat bersama untuk mengungkapkan suatu gagasan karena bahasa bisa dapat dipahami bila ada kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Bahasa diungkapkan dengan kata-kata dan kata-kata tersebut sering diberi arti arbiter (semaunya). Contoh; terhadap buah pisang, orang Sunda menyebutnya cau dan orang Jawa menyebutnya gedang.
Secara formal, bahasa merupakan semua kalimat yang dapat dibuat menurut peraturan bahasa. Setiap bahasa dikatakan mempunyai tata bahasanya tersendiri. Contoh: sebuah kalimat dalam bahasa Indonesia yang berbunyi “dimana saya dapat menukar uang ini?”, maka akan ditulis dalam bhasa Inggris “where can I Change some money?”

Variansi didalam Tradisi Sosiokultural
Tradisi sosiokultural memiliki variasi dari sudut pandang yang bersangkutan yaitu :
1)   Paham interaksi simbolis (symbolic interactionism).Berasal dari kajian sosiologi yang menekankan bahwa pentingnya observasi dari partisipan didalam kajian komunikasi dalam mengeksplorasi hubungan sosial. 
2)   Pandangan konstruktivisme social ( the social construction reality) . adalah sebuah pandangan yang menjelaskan bagaimana pengetahuan manusia dapat dibentuk dengan interaksi sosial. 
3)   Sosiolinguistik atau kajian bahasa dan budaya. Sebagaimana kita bisa mengetahui manusia dengan bahasayang di gunakannya secara berbeda didalam kelompok budaya maupun kelompok sosial yang berbeda.
4)  Etnografi, Etnografi melihat bentuk komunikasi yang di pergunakan didalam suatu kelompok sosial, kata yang digunakan, dan maknanya  sebagaimana makna tersebut  terbagi di dalam keragaman perilaku, visual dan respons audio.
5)  Paham etnometodologi adalah observasi yang cermat akan perilaku yang kecil didalam situasi yang nyata.





Sumber :
Online

Nadjib , Supadiyanto E.A. (2012) Review Tradisi – tradisi Teori Komunikasi , Diakses Selasa . 26 September 2017 dari
http://www.kompasiana.com/supadiyanto/review-i-tradisi-tradisi-teori-komunikasi_55009b1ca33311c56f511952

Lanny. (2013). 7 Tradisi dalam Komunikasi. Diakses pada Selasa . 26 September 2017 dari
http://lannylameanda.blogspot.co.id/2013/09/7-tradisi-dalam-komunikasi.html